Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

[https://www.sipendik.com/kiat-sukses-budidaya-buah-naga/]


ilustrasi - budidaya buah merah
Potensi pasar buah naga, makin tinggi. Selain konsumsi, obat herbal banyak menggunakan bahan dasar buah ini. Berbagai olahan makanan pun sekarang semakin banyak penggunakan buah merah. Impor buah ini masih cukup besar, karena produksi dalam negeri belum mencukupi. 
Manfaat Buah Naga
  1. Mencegah Kanker
  2. Menjaga Kesehatan jantung
  3. Mencegah Diabetes Melitus
  4. Meningkatkan Kekebalan Tubuh
  5. Merawat Kesehatan Kulit
  6. Menetralkan racun
  7. Merawat Kesehatan Mata
  8. Menghambat Penuaan Dini
  9. Memperkuat Tulang dan Gigi
Zat yang terkandung dalam buah naga: kalori, protein, karbohidrat, serat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin C, Vitamin B1, Vitamin B3, Vitamin B12, serta air.

ilustrasi - manfaat buah naga


Budidaya 

Tanaman ini masuk keluarga kaktus. Cocok ditanam di lahan kering & tropis. Iklim & tanah Indonesia cocok untuk pengembangan.

Tanaman buah naga, umumnya tidak membutuhkan perawatan khusus sejak ditanam hingga berbuah. Perhatian & ketekunan, tetap diperlukan agar hasil maksimal.
Diperhatikan dalam membudidayakan 

1. Syarat Tumbuh Buah Naga
Tanaman buah naga, merupakan tanaman long day plant. Artinya, butuh penyinaran matahari penuh sepanjang hari. Daerah tropis, dengan matahari sepanjang tahun, cocok. 

Tanaman dapat hidup di pegunungan & perkotaan, dengan ketinggian 0 hingga 900 dpl. Ia dapat tumbuh di semua jenis tanah, kecuali rawa-rawa.
Mampu hidup di segala kondisi. Penghujan atau kemarau. Lokasi yang memiliki curah hujan yang terlalu tinggi, tidak menguntungkan bagi tumbuhan buah naga. Karena, bisa menyebabkan kerusakan & pembusukan. Pilih juga lokasi yang bebas pencemaran udara. Udara yang tercemar, mempengaruhi produksi buahnya.
Tanaman buah naga dapat optimal pada suhu 38-40’C. Jika perawatannya baik, tumbuhan akan mulai berbuah di usia 11-17 bulan.

2. Persiapan Lahan Tanam

Tanaman buah naga memerlukan media tanah berpasir yang kaya dengan bahan organik (unsur hara) serta porous (tidak becek). Agar lahan tetap porous, dibuatkan parit-parit untuk saluran drainase di sekitar lahan.
Jarak bibit buah naga yang ideal adalah 2,5 x 2 m. Pada lahan perlu dibuatkan ajir atau tiang penyangga yang berfungsi sebagai tempat merambatnya batang. Tiang penyangga dapat dari beton (semen) tingginya 160-200 cm. Atau kayu yang di tancapkan sedalam 50 cm. Alternatif lain, dengan tanaman hidup berbatang kuat.

Setiap tiang penyangga dapat dimanfaatkan menyangga 4 tumbuhan. Setiap 1 hektar perlu 2.000 tiang untuk 8.000 bibit. Penyangga harus kuat, agar mampu meopang berat tumbuhan.

3. Pembibitan

Seperti kaktus lain, buah naga dapat dikembangkan dengan berbagai cara. Biji & stek. Walaupun sedikit rumit, cara biji masih dilakukan. 

Pertama, biji buah naga dikeringkan. Setelah kering, biji direndam dalam air hangat. Baru disebarkan di media semai. Media semai berupa campuran pasir halus, batu bata bubuk, & tanah kompos. Setelah umurnya setahun, & mempunyai panjang 4-5 cm, tanaman sudah dapat di pindah ke media tanam.
Cara lain yang lebih mudah, setek. Setek batang lebih baik, karena selain lebih mudah diperoleh, pertumbuhannya juga lebih cepat.
Setek batang dapat diambil dari suler atau batang dewasa yang dipotong-potong dengan panjang minimal 20 sampai 30 cm. Setek batang yang baru diambil, diangin-anginkan di tempat sejuk 7-10 hari. Untuk menghilangkan getahnya & luka mengering. Sebelum ditanam, bagian pangkal setek dapat di celupkan terlebih dahulu ke dalam cairan perangsang pertumbuhan akar.
Setek selanjutnya ditanam dalam kantong tanaman atau polibag yang terisi tanah liat, pasir, & pupuk kandang dengan komposisi 1:1:1/3.
Setek juga dapat langsung ditanam pada lahan. Beberapa hari kemudian, tumbuh tunas-tunas pada setek.

Tunas-tunas yang tumbuh harus diseleksi. Sebaiknya 1 atau 2 tunas yang baik yang dibiarkan tumbuh. Yang jelek dibuang, mengganggu pertumbuhan.
Setek akan tumbuh menjalar ke atas, mengikuti tiang penyangga. Setek batang yang telah ditanam sebaiknya diikat pada tiang penyangga. Agar tidak terkulai & mudah patah. Apabila tanaman sudah besar & memenuhi penyangga sebaiknya dilakukan penjarangan.

4. Pemupukan

Tanaman buah naga memang cukup mudah perawatannya. Namun, tetap saja harus dipupuk. Makin sering dipupuk, pertumbuhan tumbuhan makin subur & cepat berbuah.
Pupuknya organik atau alami dari kotoran hewan (pupuk kandang). Jika dibandingkan tumbuhan buah lain, tanaman ini dapat dikatakan pemakan pupuk kandang yang paling rakus. Satu pohon setidaknya memerlukan 1 karung pupuk kandang setiap bulannya. Karena, tanaman ini memang mampu menyimpan hara atau nutrisi untuk menghasilkan daging buah. Pemberian pupuk kandang yang banyak juga dapat membuat batang tanaman tampak kokoh & tidak mengkerut.
Jenis pupuk kandang yang baik: kotoran sapi atau kambing. Ke 2 jenis ini sangat cocok karena kotoran itu sama-sama memiliki unsur yang panas yang dapat menghangatkan media tanam. Apalagi, tumbuhan buah naga hanya tumbuh baik pada kondisi lahan yang tidak lembab, sebagaimana di gurun.
Selain pupuk organik padat, dapat juga yang cair. Pupuk organik cair disemprotkan 7 hari sekali saat masih kecil, & frekuensinya dapat ditingkatkan saat besar.
Alternatif lain dalam pemberian pupuk: setiap bulan diberi pupuk NPK dengan perbandingan 15:15:15 sebanyak 2 sendok teh per tanaman. Tambahkan pula pupuk mikro. Misalnya metalik dengan konsentrasi 4 cc/liter air, dengan dosis 3 liter per tanaman. Pada umur 6 bulan, berikan pupuk Hortigo Kuning & Hortigo Power, masing-masing 0,5 sendok teh per tanaman. Pupuk urea jarang diberikan, karena dapat mengakibatkan kebusukan.

5. Penyiraman

Tumbuhan buah naga tidak banyak memerlukan banyak air. Ini jenis kaktus, dapat menyimpan air sendiri. Air hanya diperlukan secukupnya pada musim kemarau. Penyiraman dapat dilakukan seminggu sekali. Jika hujan, tidak perlu disiram lagi.
Air penyiraman tidak boleh sampai menggenangi pangkal batang. Pangkal batang yang terendam air dapat membusuk & mati. Oleh karena itu, perlu dibuatkan saluran air di sekitar tanaman atau lahan agar air tidak tergenang.

6. Pembungaan

Tumbuhan buah naga mengeluarkan bunganya kurang dari setahun setelah ditanam. Bunga akan mekar pada malam hari. Untuk proses penyerbukannya, secara alami dibantu lebah, kupu-kupu, kelelawar, atau semut. Selain secara alami, penyerbukan juga dapat di bantu manusia.

7. Pemangkasan

Dahan-dahan yang cukup panjang atau tidak produktif dipangkas. Selain agar pertumbuhannya optimal, pemangkasan juga dapat merangsang pembungaan. Pucuk-pucuk batang juga harus sering dipangkas, agar buah tidak kekurangan nutrisi.

Panduan teknis budidaya buah naga

Panduan teknis budidaya buah naga
Buah naga dikelompokan kedalam keluarga tanaman kaktus. Meskipun dikenal sebagai buah dari Asia, tanaman ini aslinya berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Pada tahun 1870, bangsa Perancis membawa buah naga dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias. Karena rasanya manis, buah naga kemudian dikonsumsi secara meluas di Vietnam dan Cina.
Di Indonesia, buah naga mulai populer sejak tahun 2000. Tidak jelas benar siapa yang pertama kali mengembangkannya. Diperkirakan buah naga yang masuk ke negeri kita berasal dari Thailand dan dibudidayakan oleh para pehobi tanaman secara sporadis.
Saat ini terdapat beberapa spesies tanaman buah naga yang banyak dibudidayakan. Jenis-jenisnya buah populer yaitu:
  • Hylocereus undatus kulitnya merah dengan daging buah putih
  • Hylocereus polyrhisus kulit merah dengan daging buah merah
  • Hylocereus costaricensis kulit merah dengan daging buah merah pekat agak keunguan
  • Hylocereus megelanthus kulitnya berwarna kuning dengan daging buah putih.
Budidaya buah naga sangat cocok dengan kondisi iklim dan alam Indonesia. Tanaman ini tumbuh optimal pada ketinggian 0-350 meter dpl dengan curah hujan sekitar 720 mm per tahun. Suhu udara ideal bagi pertumbuhan buah naga berkisar 26-36 derajat celcius.

Memilih bibit buah naga

Tanaman buah naga bisa diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif. Cara generatif yaitu memperbanyak tanaman dari biji. Benih diambil dengan cara mengeluarkan biji dari buah naga terpilih. Cara ini sedikit sulit dan biasanya dilakukan oleh para penangkar berpengalaman.
Cara vegetatif relatif lebih banyak dipakai karena lebih mudah. Budidaya buah naga dengan cara vegetatif lebih cepat menghasilkan buah. Selain itu, sifat-sifat tanaman induk bisa dipastikan menurun pada anaknya. Berikut ini langkah-langkah penyetekkan buah naga:
  • Penyetekkan dilakukan terhadap batang atau cabang tanaman yang pernah berbuah, setidaknya 3-4 kali. Hal ini berguna agar hasil setek bisa berproduksi lebih cepat dan produktivitasnya sudah ketahuan dari hasil buah terdahulu.
  • Pilih batang yang berdiameter setidaknya 8 cm, keras, tua, berwarna hijau kelabu dan sehat. Semakin besar diameter batang akan semakin baik, karena batang tersebut akan jadi batang utama tanaman.
  • Pemotongan dilakukan terhadap batang yang panjangnya sekitar 80-120 cm. Jangan dipotong semua, sisakan sekitar 20%, bagian yang 80% akan dijadikan calon bibit.
  • Potong-potong batang calon bibit dengan panjang sekitar 20-30 cm. Ujung bagian atas dipotong rata, sedangkan pangkal bawah yang akan ditancapkan ke tanah dipotong meruncing. Gunanya untuk merangsang pertumbuhan akar.
  • Potongan setek harus memiliki setidaknya 4 mata tunas. Panjang setek bisa lebih pendek namun konsekuensinya akan berpengaruh pada kecepatan berbuah.
  • Biarkan batang setek yang telah dipotong-potong tersebut hingga getahnya mengering. Apabila langsung ditanam getah yang masih basah bisa menyebabkan busuk batang. Untuk menghindari resiko serangan jamur batang setek bisa di celupkan pada larutan fungisida.
  • Siapkan bedengan atau polybag untuk menanam setek-setek tersebut. Untuk campuran tanah atau media tanamnya silahkan lihat cara membuat media persemaian.
  • Siram bedengan atau polybag yang telah diisi dengan media tanam. Kemudian tancapkan bagian yang runcing dari setek kedalam media tanam sedalam 5 cm.
  • Berikan naungan atau sungkup untuk melindungi setek tersebut. Lakukan penyiraman sebanyak 2-3 hari sekali.
  • Setelah 3 minggu, tunas pertama mulai tumbuh dan naungan atau sungkup harus dibuka agar bibit mendapatkan cahaya matahari penuh.
  • Pemeliharaan bibit biasanya berlangsung hingga 3 bulan. Pada umur ini tinggi bibit berkisar 50-80 cm.

Persiapan budidaya buah naga

Kebutuhan bibit untuk budidaya buah naga seluas satu hektar sekitar 6000-1000 bibit. Jumlah bibit yang diperlukan tergantung pada metode tanam dan pengaturan jarak tanam. Kali ini alamtani membahas metode budidaya buah naga dengan tiang panjat tunggal. Dengan sistem ini dibutuhkan tiang panjat sebanyak 1600 batang dengan kebutuhan bibit tanaman sebanyak 6400 bibit per hektar.

a. Pembuatan tiang panjat

Dalam budidaya buah naga tiang panjat sangat diperlukan untuk menopang tumbuhnya tanaman. Tiang panjat biasanya dibuat permanen dari beton. Bentuk tiangnya bisap pilar segi empat atau silinder dengan diameter sekitar 10-15 cm.
Tinggi tiang panjat untuk budidaya buah naga biasanya 2-2,5 meter. Tiang tersebut ditanam sedalam 50 cm agar kuat berdiri. Di ujung bagian atas diberikan penopang berupa batang kayu atau besi membentuk ‘+’. Kemudian tambahkan besi berbentuk lingkaran atau bisa juga ban motor bekas. Sehingga bagian ujung atasnya berbentuk seperti stir mobil.
Buatlah tiang panjat tersebut secara berbaris, jarak tiang dalam satu baris 2,5 meter sedangkan jarak antar baris 3 meter. Jarak ini juga sekaligus menjadi jarak tanam. Di antara barisan buat saluran drainase sedalam 25 cm.

b. Pengolahan tanah

Setelah tiang panjat disiapkan, buatlah lubang tanam dengan ukuran 60×60 cm dengan kedalaman 25 cm. Posisi tiang panjat persis terletak ditengah-tengah lubang tanam tersebut.
Campurkan 10 kg pasir dengan tanah galian untuk menambah porositas tanah. Tambahkan pupuk kompos atau pupuk kandang yang telah matang sebanyak 10-20 kg. Tambahkan juga dolomit atau kapur pertanian sebanyak  300 gram, karena buah naga memerlukan banyak kalsium. Aduk bahan-bahan tersebut hingga merata.
Timbun kembali lubang tanam dengan campuran media di atas. Kemudian siram dengan air hingga basah tapi jangan sampai tergenang. Biarkan lubang tanam yang telah ditimbun kembali tersinari matahari dan mengering.
Setelah 2-3 hari, berikan pupuk TSP sebanyak 25 gram. Pemberian pupuk melingkari tiang panjat dengan jarak sekitar 10 cm dari tiang. Biarkan selama kurang lebih 1 hari. Kini lubang tanam siap untuk ditanami.

Penanaman bibit buah naga

Untuk satu tiang panjat dibutuhkan 4 bibit tanaman buah naga. Bibit ditanam mengitari tiang panjat, jarak antar tiang panjat dengan bibit tanaman sekitar 10 cm. Bibit dipindahkan dari bedeng penyemaian atau polybag. Gali tanah sedalam 10-15 cm, atau disesuaikan dengan ukuran bibit. Kemudian bibit diletakkan pada galian tersebut dan ditimbun dengan tanah sambil dipadatkan.
Setelah ke-4 bibit ditanam, ikat batang bibit tanaman tersebut sehingga menempel pada tiang panjat. Lakukan pengikatan setiap tanaman tumbuh menjulur sepanjang 20-30 cm. Pengikatan jangan terlalu kencang untuk memberi ruang gerak pertumbuhan tanaman dan agar tidak melukai batang.

Pemupukan dan perawatan

a. Pemupukan

Pada masa awal pertumbuhan pupuk yang dibutuhkan harus mengandung banyak unsur nitrogen (N). Pada fase berbunga atau berbuah gunakan pupuk yang banyak mengandung fosfor (P) dan kalium (K). Pemakaian urea tidak dianjurkan untuk memupuk buah naga, karena sering mengakibatkan busuk batang.
Pemupukan dengan pupuk kompos atau pupuk kandang dilakukan setiap 3 bulan sekali dengan dosis 5-10 kg per lubang tanam. Pada saat berbunga dan berbuah berikan pupuk tambahan NPK dan ZK masing-masing 50 dan 20 gram per lubang tanam. Pada tahun berikutnya perbanyak dosis pemberian pupuk sesuai dengan ukuran tanaman. Pupuk tambahan berupa pupuk organik cair, pupuk hayati atau hormon perangsang buah bisa diberikan untuk memaksimalkan hasil.

b. Penyiraman

Penyiraman bisa dilakukan dengan mengalirkan air pada parit-parit drainase. Selain itu juga bisa menggunakan gembor atau irigasi tetes. Sistem irigasi tetes lebih hemat air dan tenaga kerja namun perlu investasi yang cukup besar.
Penyiraman dengan parit drainase dilakukan dengan merendam parit selama kurang lebih 2 jam. Bila penyiraman dilakukan dengan gembor, setiap lubang tanam disiram dengan air sebanyak 4-5 liter. Frekuensi penyiraman 3 kali sehari di musim kering, atau sesuai dengan kondisi tanah.
Penyiraman bisa dikurangi atau dihentikan ketika tanaman mulai berbunga dan berbuah. Pengurangan atau penghentian penyiraman bertujuan untuk menekan pertumbuhan tunas baru sehingga pertumbuhan buah bisa maksimal. Penyiraman tetap dilakukan apabila tanah terlihat kering dan tanaman layu karena kurang air.

c. Pemangkasan

Terdapat setidaknya tiga tipe pemangkasan dalam budidaya buah naga, yakni pemangkasan untuk membentuk batang pokok, pemangkasan membentuk cabang produksi dan pemangkasan peremajaan.
Pemangkasan untuk membentuk batang pokok dilakukan pada batang bibit tanaman. Tanaman yang baik memiliki batang pokok yang panjang, besar dan kokoh. Untuk mendapatkan itu pilih tunas yang tumbuh di bagian paling atas batang awal. Tunas yang tumbuh dibawahnya sebaiknya dipotong saja.
Pemangkasan untuk membentuk cabang produksi dilakukan pada tunas yang tumbuh pada batang pokok. Pilihlah 3-4 tunas untuk ditumbuhkan. Nantinya tunas ini akan menjadi batang produksi dan tumbuh menjuntai ke bawah. Tunas yang ditumbuhkan sebaiknya yang ada di bagian atas, sekitar 30 cm dari ujung atas.
Pemangkasan peremajaan dilakukan terhadap cabang produksi yang kurang produktif. Biasanya sudah berbuah 3-4 kali. Hasil pangkasan peremajaan ini bisa dijadikan sumber bibit tanaman.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemangkasan adalah bentuk tanaman. Biasanya tanaman buah naga tumbuh tidak teratur. Upayakan agar tunas-tunas yang dipilih bisa membentuk tanaman dengan baik. Sehingga percabangan tidak terlalu rimbun dan batang yang ada dibawah tajuk bisa terkena sinar matahari dengan maksimal.
Panduan teknis budidaya buah naga

Pemanenan

Tanaman buah naga berumur panjang. Siklus produktifnya bisa mencapai 15-20 tahun. Budidaya buah naga mulai berbuah untuk pertama kali pada bulan ke 10 hingga 12 terhitung setelah tanam. Namun apabila ukuran bibit tanamannya lebih kecil, panen pertamanya bisa mencapai 1,5-2 tahun terhitung setelah tanam. Produktivitas pada panen pertama biasanya tidak langsung optimal.
Satu tanaman biasanya menghasilkan 1 kg buah. Dalam satu tiang panjat terdapat 4 tanaman. Berarti  dengan jumlah tonggal 1600 dalam satu hektar akan dihasilkan sekitar 6-7 ton buah naga sekali musim panen. Usaha budidaya buah naga yang sukses bisa menghasilkan lebih dari 50 ton buah per hektar per tahun.
Ciri-ciri buah yang siap panen adalah kulitnya sudah mulai berwarna merah mengkilap. Jumbai buah berwarna kemerahan, warna hijaunya sudah mulai berkurang. Mahkota buah mengecil dan pangkal buah menguncup atau berkeriput. Ukuran buah membulat dengan berat sekitar 400-600 gram.

Sabtu, 22 Desember 2012 — 11:40 WIB

kompol-sub
SEORANG anggota polisi bukan saja memiliki tugas melayani dan mengayomi masyarakat, melainkan harus memberikan contoh dalam dunia usaha kepada masyarakat. Itulah barang kali tekad bulat yang kini tengah dijalani sosok polisi yang bertugas di Mapolda Jabar.
Perwira menengah (Pamen) polisi berpangkat Komisaris Polisi (Kompol), I Ketut Petra, setiap minggu selalu memanfaatkan hari liburnya untuk mengkarabkan diri dengan tanaman. Bermodalkan kotoran kuda, Petra sudah tahun ini melakukan pembudidayaan buah naga yang tergolong langka. Dalam tempo dua tahun ini Petra bukan hanya dikenal sosok polisi, namun gelarnya kini bertambah sebagai juragan buah naga di kota Bandung. “ Kami sudah memiliki 300 pohon naga siap panen. Sedang bibitnya masih ada ribuan,“ kata dia saat berbincang dengan Pos Kota.
Ide pengembangbiakan pohon naga terinspirasi saat melihat kotoran kuda yang menumpuk di pacuan kuda Arcamanik Bandung. Untuk memanfaatkan kotoran itu dia mencoba melakukan eksperimen menanam naga menggunakan pupuk kotoran itu. Hasilnya, cukup fantatis. Kotoran kuda ternyata sangat cocok untuk dijadikan pupuk pohon naga. Keberhasilannya, semakin memompa semangat Petra untuk terus berkarya.
Sedikitnya belasan karung kotoran kuda selalu diangkut setiap minggu untuk mengembangkan usahanya. “Tidak sia sia. Kerja keras mampu memberikan harapan jauh ke depan dalam mengembangkan usaha naga.”
Tak tanggung tanggung halaman kedua rumahnya kini dijadikan lahan tanaman buah naga yang nampak tumbuh subur dan berbuah. Dalam tempo dua tahun ini Petra pun berhasil menorehkan usaha mandirinya melalui naga.
Pohon naga, aku Petra, selalu dipelihara dengan menggunakan pupuk kotoran kuda dan ditambah pupuk NPK. Dalam cuaca yang panas serta media yang panas  pohon ini  akan tumbuh subur dan cepat berbuah. “ Itulah rezeki. Kotoran kuda dianggap menjijikan, ternyata menyimpan berlian dibalik kejijianya,“ paparnya.
Naga yang kini dibudidayakan sosok polisi itu tergolong memiliki kualitas luar biasa. Buahnya  merah super dan selalu diincar para bandar untuk dijual ke berbagai supermarket.
Naga milik Petra tergolong luar biasa. Ketika panen dia senantiasa memupu rezeki hasil dari penjualan. Bisa dibayangkan untuk naga super memiliki harga Rp 35 ribu per kg. Kategori naga kelas A harganya Rp  30,ribu, kelas B  Rp  25 ribu, dan naga kelas C  Rp  20 ribu per kg. “Beratnya variasi mulai  600 sd 800, 500 sd 600,  400 sampai  500, dan  300 gram sampai 400 gram. “
Yang perlu diingat naga ini banyak mengandung  vitamin  A dan C. Dan mampu menurunkan koresterol dan mengandung antitoksi,“ jelasnya.
Hasil kerja kerasnya memang kini sudah mulai dirasakan sang pemilik. Selama dua tahun lebih menggeluti pohon naga Petra yang beralamat di Jalan Purbasari 27, Bandung  sudah puluhan kali melakukan panen raya.  Tak hanya sampai di situ, Petra pun selalu menerima siapa pun yang akan membeli bibit pohon naga. Untuk bibit dia  memberikan harga   Rp 50 ribu. Menjelang tahun baru Petra akan kembali melakukan panen raya demi menambah pundi pundi pulusnya.
(dono/sir)